Cerpen: KEMBALI

foto: Didiet De'Esha

Hamparan padang rumput hijau dengan pepohonan rindang di kampung Gedong ini adalah salah satu tempat favoritku berkumpul bersama teman-temanku. Disini aku dulu biasa bermain bola dengan Aldi, Yanto, Ahmad dan Faisal sahabat-sahabat terbaikku. Biasanya kami bermain bola sepulang sekolah sehabis makan sampai sore menjelang malam. Atau kalau hari libur sekolah kami biasa bermain seharian. Main bolanya mungkin biasa saja, tapi canda tawa dan cerita lucu teman-temanku itu yang bikin kangen.

Teringat juga, kami dulu paling suka menggoda Karin, anak tunggal pak Kepala Desa yang sangat cantik, minimal untuk ukuran di kampung kami.
Kami menggodanya sampai Karin tidak sanggup melanjutkan perjalanannya lagi dan akhirnya kembali ke rumahnya dengan wajah memerah menahan malu.

Ah, sekarang semua tinggal kenangan. Setelah selesai sekolah menengah, kami pun akhirnya berpisah mengejar cita-cita masing-masing.
Aldi mengikuti pamannya yang bekerja di Kalimantan. Yanto melanjutkan sekolah di akademi kepolisian di Surabaya. Ahmad dan Faisal bekerja paruh waktu di kantor Kelurahan, sementara aku kuliah dan mengikuti budeku yang tinggal di Jakarta.
Lalu bagaimana dengan Karin? Terakhir ku dengar kabarnya akan dinikahkan dengan anak pak Camat. Entah sudah jadi menikah atau belum saat ini. Padahal dulu aku pernah nyaris menyatakan cinta padanya. Namun selalu gagal karena teman-temanku tidak pernah memberiku kesempatan berduaan saja dengan Karin.
Hari ini aku pulang kampung setelah 3 tahun belajar di ibukota. Kangen dengan emak dan bapak, teman-temanku dan juga Karin. Bagaimana keadaanya sekarang? Masihkah cantik seperti 3 tahun yang lalu? Masihkah pemalu seperti dulu? Masihkah sendiri?
"Aryo"
Tiba-tiba sebuah suara yang sangat lembut menyentakkan lamunanku. Aku berpaling cepat ke arah suara yang memanggilku.
"Eh.. kamu. Karin?"
Hatiku terkesiap. Jantungku berdegup lebih kencang. Antara kaget dan senang. Bayangkan, orang yang sejak tadi ada di lamunanku kini berdiri di sampingku!
"Apa kabarmu, Rin? Kamu.. masih ingat aku?" Terbata-bata aku bertanya. Masih tak percaya.
"Ingat, Yo. Mana mungkin aku melupakan pria tampan yang selalu tak tega melihatku digoda teman-temanmu"
Karin tertawa kecil. Aku membalasnya dengan tawa lebar. Ingat kebodohan masa sekolah itu.
Tak tahan menunggu lebih lama akhirnya aku bertanya, "Kamu sudah menikah?"
Karin tertunduk. Pipinya seketika memerah, makin cantik dia.
"Belum," jawabnya, singkat.
Dalam hati aku bersorak. Yes! Seperti bunga yang hampir kering disirami air hujan, begitulah perasaanku saat itu.
Kamipun mengobrol panjang lebar sampai tak menyadari matahari yang hampir tenggelam. Tak ingin melepasnya tanpa kepastian lagi, akhirnya aku meminta Karin untuk dapat bertemu kembali besok pagi. Karin hanya tersenyum samar, tapi aku menganggap itu adalah jawaban yang berarti "iya".
Menjelang malam akhirnya tiba juga aku dirumah. Emak dan bapak yang sejak tadi menungguku, langsung menyambutku dengan pelukan yang sangat hangat. Mereka menanyakan bagaimana perjalananku, sekolahku dan juga keluarga bude di Jakarta.
Dengan penuh antusias dan semangat empat lima, aku menceritakan semuanya. Termasuk pertemuanku yang sangat tak terduga dengan gadis idaman masa sekolahku itu.
"Kamu bertemu Karin, Le?" Emak keliatan tak percaya.
"Iya Mak. Dia masih sangat cantik, seperti dulu!" Jawabku tanpa bisa menyembunyikan lagi rasa cintaku.
Emak dan bapak saling memandang lalu menatapku lama.
"Katanya dia belum menikah, Mak. Rupanya tidak jadi ya dinikahkan dengan anak pak Camat itu.."
"Aryo"
Bapak memotong kata-kataku. Keliatan ada kegelisahan dari matanya.
"Kamu yakin.. itu.. Karin?"
Suara bapak terdengar lebih gelisah.
"Yakin sekali, Pak. Tak mungkin Aryo salah!" Sahutku dengan percaya diri.
Emak dan bapak saling berpandangan lagi. Bibir mereka tiba-tiba terkatup rapat. Terdiam seribu bahasa. Aku merasakan kegelisahan mereka.
Tiba-tiba emak memecah keheningan malam itu dan berucap lirih, "Karin sudah meninggal, Le. Sebulan yang lalu. Kecelakaan.."
Aku terhenyak. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kepalaku tiba-tiba terasa berputar sangat cepat. Sejurus kemudian, aku merasakan semua gelap disekelilingku. Hening. Sepi.
Hutan kota, Jaksel, 21 Juli 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Flash Fiction - Bertemu Ibu